Well I couldn't tell you why she felt that way, She felt it everyday. And I couldn't help her, I just watched her make the same mistakes again.
What's wrong, what's wrong now? Too many, too many problems. Don't know where she belongs, where she belongs. She wants to go home, but nobody's home. It's where she lies, broken inside. With no place to go, no place to go to dry her eyes. Broken inside.
Open your eyes and look outside, find the reasons why. You've been rejected, and now you can't find what you left behind. Be strong, be strong now. Too many, too many problems. Don't know where she belongs, where she belongs. She wants to go home, but nobody's home. It's where she lies, broken inside. With no place to go, no place to go to dry her eyes. Broken inside.
Her feelings she hides. Her dreams she can't find. She's losing her mind. She's fallen behind. She can't find her place. She's losing her faith. She's fallen from grace. She's all over the place. Yeah,oh
She wants to go home, but nobody's home. It's where she lies, broken inside. With no place to go, no place to go to dry her eyes. Broken inside.
She's lost inside, lost inside...oh oh yeah She's lost inside, lost inside...oh oh yeah
Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Ada 1 Juta, Hanya 10% yang Berobat
Jakarta, Berbeda dengan penyakit fisik seperti pilek ataupun sakit jantung yang mudah dideteksi gejalanya sejak dini, penyakit mental lebih sulit dideteksi. Tak hanya itu, banyak masyarakat yang mengalami gangguan jiwa tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena berbagai hal
"Yang sakit dengan yang datang berobat itu sangat jauh. Hanya 10 persen dari penderita yang pernah berobat ke rumah sakit jiwa atau fasilitas kesehatan lainnya," kata dr Edduar Idul Riyadi, SpKJ, Kasubdit Kelompok Berisiko Ditjen Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI
Dalam acara peluncuran Unit Mobile Mental health Service di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013), dr Eduard yang akrab disapa dengan nama Edi ini menjelaskan bahwa salah satu penyebab minimnya penderita gangguan jiwa yang memeriksakan diri adalah karena masalah akses pelayanan kesehatan.
Di Indonesia, rumah sakit jiwa yang dimiliki pemerintah hanya 33 buah. Sedangkan rumah sakit jiwa atau klinik-klinik penderita gangguan jiwa yang dikelola swasta berjumlah sekitar 40-an. Jumlah ini dirasa masih sangat kurang karena penderita gangguan jiwa di Indonesia masih cukup banyak.
"Penderita gangguan jiwa hasil Riskesdas 2007 itu yang berat saja ada 0,64 persen atau sekitar hampir sejuta dari seluruh penduduk Indonesia. Nah, di beberapa daerah juga tidak ada RSJ. Ada 8 provinsi, khususnya provinsi pemekaran, yang belum memiliki fasilitas kesehatan jiwa," terang dr Edi.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan jiwa. Dr Edi mengaku pihaknya sudah mendorong rumah sakit pemerintah di daerah untuk membuka fasilitas rawat bagi penderita gangguan jiwa. Selama ini, rumah sakit umum di daerah memang tidak merawat penderita gangguan jiwa.
Praktiknya, rumah sakit pemerintah di daerah yang mampu diminta membuka pelayanan rawat inap minimal 10 tempat tidur. Pelayanan ini dikhususkan untuk pasien gangguan jiwa, sehingga pasien gangguan jiwa akan lebih terlayani. Namun masalah pelayanan ini juga harus diikuti penambahan SDM yang berkualitas.
"SDM kita juga masih rendah, khususnya tenaga psikiater masih kurang. Ada sekitar 650 atau hampir 700 orang psikiater di seluruh Indonesia dan masih terpusat di kota-kota besar, tidak menyebar ke seluruh Indonesia," terang dr Edi.
(pah/vit)
Kurangnya SDM dan fasilitas rawat bagi penderita gangguan jiwa merupakan penyebab utama munculnya angka yang relatif tinggi penderita gangguan jiwa di Indonesia. Umumnya, rumah sakit Indonesia lebih mengutamakan pasien yang memiliki penyakit yang tampak dan jelas padahal awal mula penyakit merupakan dari tidak ketahanan seseorang terhadap sesuatu sehingga menimbulkan stres dan berakibat langsung pada tubuhnya.
Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli akan kesehatan jiwa dan pikiran agar berdampak bagi tubuh dan aktifitas sehari-hari.
Pada zaman sekarang sudah banyak, para psikolog dan psikiater bahkan motivator ikut serta dalam mengatasi bahkan mengurangi masalah ini, mereka bekerja sebagai dasar untuk memotivasi mereka untuk berpikir positif dan memberikan cara ampuh untuk menghadapi stres. Nah, selain itu untuk mengurangi penderita gangguan jiwa diperlukan sesuatu yang lebih intens dan lebih pribadi yaitu mendekatkan diri terhadap Pencipta-Mu.
Survei juga membuktikan bahwa penderita gangguan jiwa lebih banyak diderita oleh orang-orang yang memiliki IQ (intelektual) tinggi daripada orang-orang yang IQ rendah, hal ini juga diambil garis besar bahwa hal yang dapat menjadi kesuksesan hidupmu bukan pada daya IQ dan kepuasaanmu akan suatu hal melainkan dari keseimbangan jiwa dan pemikiranmu terhadap kehidupan di dunia dan dengan Pencipta-Mu.
Hal ini mutlak dijelaskan dengan konsep yin dan yang (china), bahwa sisi gelap dan terangmu harus seimbang ..
Ketika saya hendak pulang kampus, seperti biasanya saya pulang naik kendaraan umum. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, matahari sudah mulai lelah menyinari bumi, begitu juga manusia yang lelah dengan aktifitas dan pekerjaan mereka dari pagi sampai sore hari. Perjalanan rumah saya cukup jauh kira-kira 45 menit dari kampus. Selama perjalanan pulang banyak hal-hal atau kejadian menarik dan miris bagi saya.
Salah satunya ketika saya naik angkot, angkot yang saya tumpangi ketika itu cukup ramai tetapi masih ada beberapa space antara penumpang dengan penumpang lain. Ketika itu ada seorang ibu yang memiliki badan cukup besar dan aroma yang cukup menyengat menaiki angkot yang saya tumpangi. Ketika Ibu itu hendak duduk, penumpang-penumpang lain yang tadinya kalem karena mungkin kelelahan tiba-tiba mulai agresif, saling mendoronglah, melebarkan kakinya lah agar ibu itu tidak duduk disebelah mereka, ntah apa yang mereka pikirkan, saya tidak habis pikir pada saat itu. Saya melihat begitu jijik nya mereka melihat ibu itu, baik muda maupun tua. Mau-tidakmau secara sukarela saya menawarkan ibu itu duduk disebelah saya dan berbagi space tempat duduk.
Saya sangat miris melihat hal seperti itu, kita sesama manusia seharusnya saling menolong dan berbagi, tetapi nyatanya banyak dari kita yang egois. Terlalu banyak saya mendengar ceramah atau nasehat dari orang lain, bahwa kita hidup di dunia harus saling berbagi dan menghargai, tapi ketika melihat hal itu saya berpikir hal 'nonsense'.
Apa yang terjadi dengan manusia saat ini?
Apakah ada trend untuk hidup sendiri seperti status facebook yang saya lihat 'AKU YA AKU KAU YA KAU?'
Begitu mudahkah seseorang tidak menghargai orang lain?
Pertanyaan besar bagi saya dan juga menjadi pelajaran yang besar bagi saya.
Tidakkah penumpang tadi berpikir bagaimana hal itu terjadi pada Ibu mereka atau mereka sendiri. Saya juga menyadari bahwa mereka baru selasai dari aktifitas mereka dan mereka sangat lelah begitu juga yang saya rasakan bahkan yang ibu itu rasakan. Seharusnya kita harus saling mengahargai dan menghormati sesama manusia. Saya masih ingat, ketika Alm. nenek saya bercerita bahwa dahulu manusia pada zaman nenek sangat harmonis, saling toleransi dan saling membangun. Jika nenek saya melihat manusia zaman sekarang mungkin dia mengira, dia hidup didunia mana atau manusia seperti apa ini?
PERLUKAH ADANYA PENDIDIKAN MORAL??
Pendidikan moral sangat perlu ditanamkan pada manusia, terutama pada masa kanak-kanak. Sudah saatnya setiap sekolah terutama di Indonesia menjadikan pendidikan moral sebagai kurikulum atau mata pelajaran wajib bagi siswanya. Dari pendidikan moral kita dapat memahami aspek-aspek penting dalam kehidupan bahkan meraih kesuksesan baik di dunia maupun akhirat nanti. Banyak dari kita yang menyampingkan bahkan tidak memperdulikan guna dari pendidikan moral itu, yang kita tahu dengan belajar ilmu yang kaku (yang sudah ada) merupakan menjadi tabungan mereka untuk masa depan. Tapi dengan kita menjadi 'pintar' apakah kita juga 'pintar' dalam menggunakannya??
So, Teman-teman blog. Mari kita pelajari dan praktekkan pendidikan moral kepada diri kita agar menjadi manusia yang memiliki moralitas dan rasa saling menghormati dan menghargai. Saya berharap kejadian yang saya lihat tidak terjadi lagi dan menjadi pelajaran buat kita semuua
Early
Childhood Education (ECE) atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) merupakan suatu
upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak dari sejak lahir sampai dengan usia
6 tahun. Upaya pembinaan ini dilakukan dasar bagi pembentukan kepribadian anak
baik karakter, budi pekerti, kecerdasan, keceriaan (psikologis), keterampilan
dan menanamkan pemahaman mengenai kerohanian (keagamaan). Upaya tersebut tidak
harus dilakukan dengan fasilitas yang mahal tetapi bisa dilaksanakan dari
lingkungan keluarga anak.
ECE/PAUD
pertama kali didirikan oleh Friedrich Wilhelm August Frobel melalui lembaga
yang bernama “KINDERGARTEN”, yaitu kinder artinya anak dan garten berarti
taman. KINDERGAERTEN didirikan di kota Blankerburg, Jerman yang juga dianggap
sebagai pelopor ECE/PAUD di dunia.
Nah,
Bagaimana di Indonesia?
Dengan
berdirinya KINDERGARTEN oleh Frobel sangat berpengaruh terhadap perkembangan
PAUD di seluruh dunia termsuk Indonesia. Hal ini berkembang karena konsep dan
tujuan dari KINDERGARTEN mengarah pada perkembangan anak yang mana harapan
orang tua dan juga Negara, anak dapat menjadi generasi penerus yang dapat
membimbing dan membentuk kehidupan dunia lebih baik dengan ide-ide yang segar
dan kreatif. Di Indonesia, ECE/PAUD pertama kali didirikan oleh pemerintah
Hindia Belanda dimana sekolah tersebut hanya diperuntukkan kepada anak-anak
keturunan Belanda, Eropa dan bangsawan.
Kemudian
pada tahun 1919 Persatuan Wanita Aisyiyah mendirikan Bustanuf Athfal di
Yogyakarta, sekolah ini merupakan bersifat universal dimana anak-anak dari setiap
golongan boleh masuk atau ikut belajar. Pada Tahun 1913-1915, Ki Hajar
Dewantara mendirikan Taman Lare atau Taman Anak (Kindertuin) yang akhirnya
berkembang menjadi Taman Indria.
“Didiklah anakmu sesuai dengan
zamannya, bukan pada zamanmu”
Perkembangan
ECE/PAUD di Indonesia ???
Periode 1998-2003 ditandai dengan otonomi pendidikan,
yang berpengaruh terhadap tata kelola penanganan PAUD di pusat maupun di
daerah-daerah. Pada periode ini pemerintah mulai mendukung berkembangnya PAUD
jalur pendidikan nonformal dalam bentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan
Anak (TPA) dan satuan PAUD Sejenis dalam bentuk pengintegrasian layanan PAUD
dengan Posyandu. Melalui dukungan Bank Dunia pada 1998-2004 pemerintah merintis
program Pengembangan Anak Dini Usia di 4 propinsi, yaitu Jawa Barat, Banten,
Bali, dan Sulawesi Selatan. Program dilanjutkan pada tahun 2008-2013 dengan
nama program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD) dengan dukungan
pembiayaan pinjaman dari Bank Dunia dan hibah dari pemerintah Belanda. Pada
bulan Februari 2002, terbentuk forum PADU/PAUD Tingkat Nasional yang turut
berkontribusi dalam pengembangan dan pembangunan PAUD di Indonesia. Di periode
ini pula terjadi pendirian PGTK/PG-PAUD jenjang S-1 dibeberapa perguruan tinggi.
Periode 2003-2009, ditandai dengan keluarnya
undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
merupakan jawaban atas tuntutan reformasi dalam semua aspek kehidupan. Melalui
UU ini untuk pertama kali PAUD diatur secara khusus dalam sebuah undang-undang,
yaitu pada pasal 1 butir 14 tentang pengertian PAUD; pasal 28 yang secara
khusus mengatur tentang PAUD; dan pasal-pasal terkait lainnya. Pada tahun 2003
diselenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloknas) di IKIP Bandung
yang menghadirkan akademisi dari perguruan tinggi, forum PAUD, dan praktisi
PAUD dari berbagai daerah. Semiloknas ini menghasilkan 'blue print' tentang
kerangka akademik dan rujukan pengembangan PAUD di Indonesia yang mengawali
konseptualisasi pembangunan PAUD Indonesia. Selanjutnya pada tahun 2005 berdiri
organisasi profesi, himpunan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD Indonesia
(HIMPAUDI) yang menggerakan seluruh potensi pendidik dan tenaga kependidikan
PAUD yang tersebar diseluruh Indonesia.
Pada tahun 2004-2009 program PAUD menjadi salah satu dari 10 prioritas
Depdiknas sehingga PAUD menjadi salah satu program pokok dalam pembangunan
pendidikan di Indonesia (tertuang dalam RPJM Tahun 2004-2009 dan renstra
Depdiknas Tahun 2004-2009). Pada penghujung tahun 2009, diterbitkan
Permendiknas Nomor. 58 tahun 2009 tentang Standar PAUD (formal dan nonformal).
Periode 2010-sekarang, ditandai dengan kebijakan
penggabungan pembinaan PAUD formal dan PAUD nonformal di bawah Direktorat
Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) melalui
Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan
Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana diubah dengan
Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2010. Pada perjalanan sejarah pembinaan PAUD
di Indonesia, akhirnya sebagai karakteristiknya yang meliputi TK (termasuk
Taman Kanak-kanak Bistanul Athfal/TK-BA), RA, KB, TPA, Satuan PAUD Sejenis,
serta PAUD berbasis keluarga dan/atau lingkungan.
Sumber : Buku Kerangka
Besar Pembangunan PAUD Indonesia
Dengan
adanya ECE/PAUD sangat diharapakan untuk perkembangana anak yang lebih baik dan
juga sebagai sarana dan prasarana anak untuk mengembangkan bakat dan mengasah
kreativitas yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Dasar dari ECE/PAUD bukanlah
untuk mengajarkan konsep dan teori kepada anak melainkan mengajak anak-anak
bermain dan melakukan apa yang diinginkan yang positif agar membentuk persiapan,
baik fisik maupun mental pada anak agar siap membentuk kepribadian anak yang lebih
baik sebelum masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mencerdaskan
kehidupan bangsa yang lebih baik.
Banyak pendapat orang tua, bahwa ECE/PAUD menyita waktu anak yang seharusnya berada di rumah dan mengisi hari-hari dengan bermain dan berkumpul dengan keluarga, selain itu juga ECE/PAUD juga cukup menguras perekonomian keluarga. Sehingga kebanyakan orang tua di Indonesia kurang meminati dan lebih memilih Sekolah Dasar sebagai pendidikan yang pertama untuk anak-anaknya. Padahal jika kita melihat sisi positifnya, ECE/PAUD merupakan pendidikan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak dari usia 0-6 tahun. Tidak harus mahal dan fasilitas yang memadai, pendidikan ini dapat diberikan dengan pembelajaran dari anggota keluarga yang berperan aktif. Untuk itu, perlu dan sangat diharapkan pemerintah untuk meyakini para orang tua untuk memberikan pendidikan usia dini kepada anak-anaknya agar terciptanya generasi muda yang cerdas dan berbakat.
E-Learning
atau Pembelajaran jarak Jauh adalah adalah pembelajaran dengan
menggunakan suatu media yang memungkinkan terjadi interaksi antara
pengajar dan pembelajar. Dalam E-learning antara pengajar dan pembelajar
tidak bertatap muka
secara langsung, dengan kata lain melalui E-learning dimungkinkan
antara
pengajar dan pembelajar berbeda tempat bahkan bisa dipisahkan oleh jarak
yang sangat jauh. Jadi sangat memudahkan proses pembelajaran.
Saat
ini E-learning banyak dipakai bukan hanya untuk anak sekolah atau
universitas tetapi juga mulai diberlakukan bagi para pekerja-karyawan.
Mereka bekerja tidak lagi harus datang ke kantor, tetapi cukup duduk
dihadapan laptop/komputer dan pastinya dengan jaringan Internet. Mereka
sudah bisa bekerja. Biasanya perusahaan-perusahaan besar banyak
melakukan sistem ini seperti: Yahoo dll.
E-learning
cukup banyak digunak untuk proses pembelajaran pada zaman sekarang,
karena E-learning dianggap memiliki keuntungan baik dalam segi
foundational, time, dan kreativitas seseorang. E-learning dianggap
menguntungkan, karena secara tidak langsung membuat indivu untuk bekerja
sendiri agar individu tersebut dapat fokus dan tidak terjadinya konflik
sosial.
So, teman-teman dibalik kelebihan pasti ada kekurangan.
E-learning
juga tidak dianggap efisien karena memisahkan individu dengan kodratnya
sebagai Makhluk Sosial dan juga tidak baik untuk kesehatn tubuh kita.
Kita juga butuh pergerakan untuk melatih kebugaran jasmani maupun rohani
kita.
komitmen merupakan kekuatan
yang mengikat seseorang pada suatu tindakan yang memiliki relevansi dengan satu
atau lebih sasaran.
Dari defenisi tersebut kita dapat mengambil garis besar
yaitu janji dan ikatan. Jika seseorang sudah berjanji kepada orang lain maupun
dirinya, maka dia sudah mempunyai ikatan antara orang tersebut maupun dirinya.
Walau hanya satu kata, janji merupakan suatu yang sangat dalam akan maknanya
dan pengaplikasiannya. Jika janji sudah terucap dan ikatan antara yang berjanji
akan kuat maka itulah yang disebut komitmen. Oleh karena itu setiap manusia harus mempunyai
komitmen terhadap dirinya agar dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab
akan tugas untuk dirinya maupun lingkungannya.
Lantas bagaimana memulainya?
Untuk membuat dan menjalankan komitmen dengan baik, dimulai
dari kesanggupan diri kita tidak perlu atau jangan berkomitmen yang tidak bisa
kita lakukan. Lakukan dari dirimu, gunakan struktur dalam menjalankan komitmen
kemudian laksanakan.
Apa komitmen saya?
Saya akan memulai di lingkungan kampus saya, yaitu Fakultas
Psikologi, Universitas Sumatera Utara.
Hmm.. mendengar Psikologi saja, sudah agak gemeteran. Hahaha
(Pamer!!)
Seorang calon Psikolog (tunjuk diri sendiri) harus dapat
melaksanakan komitmen yang dibuatnya. Hal yang sangat aneh, jika psikolog
mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang lebih baik dan bertanggung jawab
untuk dirinya dan lingkungannya tetapi tidak dapat mengaplikasikan p[ada
dirinya.
Oleh karena itu, mulai dari awal saya kuliah, saya
berkomitmen:
Mematuhi dan melaksanakan peraturan kampus. Baik
dari cara berpakaian maupun ber-etika
yang baik dan sopan terhadap lingkungan atau daerah kampus. Baik dengan dosen,
staf dan pegawai, serta teman-teman yang berada di daerah kampus baik Fakultas
maupun seluruh daerah Universitas Sumatera Utara. (jadi teringat lagu USU)
Melaksanakan kewajiban sebagai Mahasiswa
Fakultas Psikologi. Melaksanakan tugas mahasiswa seprti; mengerjakan tugas dan
mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, membuat kelas menjadi aman, nyaman, dan
terkendali serta berpatisipasi terhadap event-event yang diaksanakan di kampus.
(jadi teringat dosa)
Menjaga dan merawat lingkungan Fakultas Psikolgi
Universitas Sumatera Utara, memang kita sudah membayar uang kuliah, tetapi kita
juga wajib menjaga serta merawat lingkungan kampus kiata. Walaupun, sudah ada
yang bertugas, kita juga harus ikut serta dalam merawat kampus kita. Dari kita,
oleh kita dan untuk kita! (Hidup Demokrasi!)
Menjaga nama baik Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara. Poin ini sangat penting, sebagai mahasiswa, kita harus menjaga
nama baik fakultas kita agar terhindar dari isi-isu yang sangat tidak enak
didengar dan fakta yang dimanipulasi. Kita harus bangga dengan kampus kita
dengan menjaga nama baik kampus secara tidak langsung kita juga menjaga nama
baik kita
Walau hanya empat poin, tetapi
saya berharap dapat melaksanakan komitmen saya dengan baik. Terutama pada poin
ke dua. Saya mohon maaf kepada Ibu Dina (PD III kami neh), Karena saya
tidak dapat ikut berpatisipasi dalam acara jalan santai “Dies Natalis USU” pada
tanggal 21 Oktober 2012. Secara tidak langsung saya sudah melanggar komitmen
saya dan mengurangi kepercayaan ibu kepada saya. Manusia tidak luput akan dosa,
saya mempunyai alasan kenapa saya tidap ikut berpatisipasi dan saya juga sudah
jelaskan kepada Ibu Dina. Sekali lagi saya mohon maaf dan semoga dengan tulisan
ini saya dapat lebih meningkatkan serta menjalankan kualitas dari komitmen
saya.