Senin, 21 Oktober 2013

KONSEP : PEFORMA KREATIVITAS

KELOMPOK 3 MK. KREATIVITAS:
o   Livi Yohana                            12-002
o   Eka Sartika                              12-007
o   Muthia Audina                        12-029
o   Permata Ismawarni Putri         12-030



Teori Wallas merupakan salah satu teori tentang proses kreatif. Teori Wallas yang dikemukakan tahun 1926 dalam buku The Art of Thought (Piirto,1992) menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu :
1. Persiapan
2. Inkubasi
3. Iluminasi
4. Verifikasi

Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Kami dalam merancang konsep performa kreatif kelompok telah melewati tahap ini. Di awal saat menerima kontrak kuliah, kami sudah memikirkan akan mempersembahkan penampilan seperti apa dan bagaimana.
Pada tahap kedua, kegiatan mencari data atau informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap di mana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi "mengeramnya" dalam alam pra sadar. Kami juga telah melewati tahap ini. Pada saat itu, kami sibuk dengan tugas individu masing-masing dan melupakan sejenak mengenai konsep performa yang ingin kami tampilkan nantinya.
Tahap iluminasi adalah tahap timbulnya "insight", timbulnya inspirasi atau gagasan baru, serta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru tersebut. Tahap ini terjadi pada kami saat sekita seminggu menjelang UTS. Saat itu, muncullah kesepakatan inspirasi mengenai konsep performa kreatif yang akan kami tampilkan.
Tahap terakhir yaitu tahap verifikasi atau tahap evaluasi. Pada tahap ini, ide atau inspirasi kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Kami akan menuju tahap ini dan akan melewati tahap ini saat kami telah menampilakan performa kreatif kelompok di kelas Kreativitas nanti.

Tujuan dan Manfaat Pembuatan Karya Kreativitas
= Memberikan pesan moral yang tidak menggurui dengan cara yang lebih akrab
= Sebagai media untuk mengekpresikan kreativitas kelompok
= Sebagai pembelajan untuk mengembangkan kreativitas

Perencanaan :
Banyak sekali kita liat sekarang fenomena yang terjadi di sekitar kita, mulai dari yang sudah berumur, belum berumur, atau sedang berumur tidak mengindahkan segala peraturan yang telah ditetapkan. Kita liat saja di jalanan sekarang sudah bagaimana? Semberautnya sudah tidak bisa di deskripsikan lagi, salip sana, salip sini, jalan terus walaupun lampu di pinggiran jalan menyala merah meriah, tidak jarang yang sengaja menghidupkan bunyi klakson pada saat si merah itu muncul. Nah, mungkin untuk menyadarkan betapa pentingnya tata tertib ketika kita sedang berada di jalanan adalah dengan cara menyuguhkan sebuah tontonan yang ringan tetapi berpesankan moral yang jauh dari sifat menggurui. Kami akan mempersembahkan sebuah performa kreatif berupa drama singkat yang bertemakan “Ugal-ugalan Membawa Derita”. Di sini kami merancang konsep sebagai berikut :
- Permata Ismawarni Putri sebagai pengemudi motor
- Livi Yohana sebagai pengemudi motor
- Eka Sartika sebagai rambu lalu lintas
- Muthia Audina sebagai polisi lalu lintas

Rangkaian drama yang akan kami tampilkan adalah :
Ada dua orang anak muda dengan gaya “sok keren” tidak mematuhi peraturan lalu lintas dan tidak memakai atribut yang lengkap. Kemudian, ada seorang polisi lalu lintas yang sedang berjaga, polisi tersebut memperingatkan mereka dan hendak menilang motor mereka, tetapi mereka melarikan diri. Ketika mereka kebut-kebutan dalam melarikan diri tiba-tiba saja mereka kecelakaan. Di akhir cerita polisi akan memberikan pesan moral kepada audience.

Nah, apa saja bahan yang akan kami gunakan ?
Kami akan memakai kostum yang tidak biasanya (misalnya: orang yang naik motor memakai baju yang tidak biasa, polisi dsb), semua wajah aktor akan ditutup dengan kardus yang berbentuk wajah lucu dan ada yang menjadi rambu lalu lintas.

Selasa, 15 Oktober 2013

KELUARGA, SEKOLAH DAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS



Amabile (1989), menekankan bahwa keberhasilan dalam perwujudan kreativitas ditentukan oleh tiga faktor yang saling berkait dan titik pertemuan antara tiga faktor tersebut yang menentukan keunggulan kreatif, yaitu Domain skills, Creative Thinking and Working Skills, Intrinstic Motivation. Untuk memenuhi faktor tesebut perlu adanya peran maupun pendorong agar menjadi seseorang yang kreatif, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.


             Peranan Keluarga dalam Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak.

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Penelitian Decay (1989) membandingkan karakteristik keluarga yang anak remaja sangat kreatif dangan keluarga yang anak remajanya biasa saja. Hasil penelitian ini menunjukkan peran besar dari lingkungan keluarga; dalam keluarga dengan remaja kreatif, tidak banyak aturan diberlakukan dalam keluarga dibandingkan keluarga biasa. Banyak di antara remaja yang kreatif pernah mengalami krisis atau trauma dalam hidup mereka. Humor juga merupakan ciri yang sering tampil dalam keluarga kreatif. Lebih dari setegah remaja tinggi kreatifnya ada pada keluarga di mana salah seorang dari orangtua dinilai sebagai angat kreatif. Keluarga kreatif lebih sering pindah rumah, dan penataan rumahnya pun berbeda dari rumah pada umumnya. Orang tua menemukenali tanda-tanda kekreatifan anak sudah pada usia dini, dan mereka mendorong dan memberi banyak kesempatan untuk mengembangkan bakat anak. Banyak dari orang tua dan anak dari keluarga kreatif sama-sama berpendapat bahwa peranan sekolah tidak penting dalam pengembangan kreativitas anak. Tetapi remaja kreatif cenderung untuk bekerja lebih keras daripada teman sekolah mereka.
Hubungan latar belakang keluarga terhadap kreativitas anak cukup kuat, karena dari didikan keluarga terutama peran orang tua dapat mempengaruhi berkembang atau tidak kreativitas anak. Psikolog menemukan bahwa sikap dan nilai orang tua berkaitan erat dengan kreativitas anak. Ada 6 faktor yang menentukan sikap tersebut yaitu
  • ·         Kebebasan
  • ·         Respek
  • ·         Kedekatan emosional yang sedang
  • ·         Prestasi, bukan angka
  • ·         Orang tua aktif dan mandiri
  • ·         Menghargai kreativitas.
 Kesimpulan dari penelitian Decay, bahwa latar belakang serta sikap keluarga mempengaruhi berkembangnya kreativitas anak. Seperti pada keluarga saya, dimana Ibu saya yang menyukai film maupun drama, Ibu saya suka melihat orang yang berakting dan terhanyut dalam peran. Lambat laun saya juga menyukai film dan akting yang membuat saya ikut dalam kelompok drama sewaktu SMA untuk menyalurkan bakat saya.
2.     
                  Peranan Sekolah dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Maker (1982) membagi karakteristik guru anak berbakat menjadi tiga kelompok yaitu:
  1.  Karakteristik Filosofis ; cara guru memandang pendidikan mempunyai dampak terhadap pendekatan mereka dalam mengajar.
  2. Karakteristik Profesional ; guru dapat dikembangkan melalui pelatihan dalam jabatan seperti kemampuan untuk mempergunakan keterampilan dinamika kelompok, teknik dan strategi yang maju dalam mata ajaran tertentu, memberikan pelatihan inquiry dan memahami ilmu komputer.
  3. Karakteristik pribadi : guru diharapkan memiliki motivasi, kepercayaan, rasa humor, kesabaran, minat luas, dan kelenturan (fleksibitas).
Cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah dengan motivasi intrinsik, semua anak harus belajar semua bidang keterampilan di sekolah, dan banyak anak memperoleh keterampilan kreatif melalui model-model berpikir dan bekerja kreatif, tetapi sedikit sekali anak yang dapat mempertahankan motivasi intrinsik di sekolah dengan sistem yang diterapkan. Motivasi tersebut akan tumbuh dan terpenuhi jika guru memiliki karakteristik yang disampaikan sebelumnya. Seperti yang saya alami Ketika saya duduk di bangku SMA, saya pernah mengikuti lomba debat bahasa Inggris antar sekolah, ini merupakan perlombaan pertama saya dalam bidang debat karena saya juga tidak terlalu baik dalam berbicara terlebih lagi bahasa inggris. Awalnya saya ragu untuk mengikuti perlombaan tersebut, tetapi dengan dukungan dan latihan dari guru saya, saya menjadi semangat dan akhirnya menjadi juara pertama lomba tersebut.
Menurut saya, guru saya sudah memenuhi karakteristik guru anak berbakat, hal ini dapat dinilai ketika guru saya memberikan motivasi dan memberikan pelatihan baik di jam sekolah maupun di luar jam sekolah demi membantu saya untuk mengembangkan keterampilan dan pemikiran saya agar kreatif pada saat perlombaan.
Ada tiga strategi mengajar yang dapat meningkatkan kreativitas siswa seperti yang dianjarkan oleh guru saya, yaitu :
1.      Penilaian : guru memberikan penilaian (bukan angka) terhadap apa yang telah dipelajari muridnya, kemudian guru akan memberika feedback kepada muridnya
2.      Hadiah : untuk mempertahankan minat dan kreativitas murid, guru perlu memberikan hadiah kepada muridnya sebagai bentuk penghargaan terhadap karyanya
3.      Pilihan : guru memberikan kebebasan kepada murid terhapa apa yang diminati dan tujuannya dan tidak memaksakan kehendak murid .

   Peranan Masyarakat dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Kebudayaan Creativogenic (kebudayaan ynag menunjang, memupuk, dan memungkinkan perkembangan kreativitas) menurut Arieti ( 1976) mempunyai karateristik sebagai berikut :
  • Tersedianya sarana dan prasarana kebudayaan
  • Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
  • Penekanan pada becoming, tidak hanya pada being
  • Kesempatan bebas terhadap media kebudayaan
  • Kebebasan dengan pengalaman tekanan dan rintangan sebagai tantangan menghargai dan dapat mengintegrasi rangsangan dari kebudayaan yang berbeda
  • Toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen
  • Interaksi antara pribadi-pribadi yang berarti
  • Adanya insentif, penghargaan atau hadiah.
Perlu diketahui bahwa dengan terpenuhinya kesembilan faktor tersebut belum merupakan bahwa kreativitas akan muncul. Kesembilan faktor tersebut hanya merupakan faktor penunjang atau ketidakhadiran merupakan faktor penghambat. Akan tetapi yang paling menentukan adalah unsur-unsur intrapsikis dari diri pribadi individu itu sendiri seperti rasa aman dan bebas secara psikologis.
Kreativitas merupakan kebebasan dalam berpikir dan mengekspresikan karya tanpa ada tekanan maupun peraturan yang menghambat kreativitas. Ketika duduk di bangku SMA, saya pernah menyampaikan ide saya mengenai bagaimana caranya membuat bom kertas pada kelompok saya, hal ini telah saya pelajari dengan searching di internet maupun buku yang saya baca, kelompok saya terdiri dari 8 orang termasuk saya dan ketika itu saya merupakan siswa pindahan (baru). Ketika saya menyapaikan ide saya,  salah satu teman kelompok saya tidak terima dan menganggap itu ide yang sia-sia karena dia merupakan ketua dari kelompok anggota lain pun juga ikut-ikutan mengatakan ide saya sia-sia. Perlakuan mereka tersebut membuat saya sangat tertekan dan tidak merasa dalam kelompok dan akhirnya membuat saya pasif di kelompok bahkan di kelas saat pembelajaran.
      Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa faktor yang menentukan kreativitas sesorang adalah unsur-unsur intrapsikis separti rasa aman dan keberadaan dalam suatu situasi. Peranan masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengembangkan kreativitas, karena karya yang akan kita ciptakan pastinya diharapkan berguna untuk masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya pengakuan dan security dari masyarakat terhadap kreativitas kita agar dapat diterima dan ditolak secara lebih baik. Carl Rogers (dalam vernon 1982) berdasarkan pengalaman-pengalamanya dalam psikoterapi menunjuk pada keamanan dan kebebasan psikologis sebagai kondisi eksternal yang memupuk kreativitas yang konstruktif. Tetapi lingkungan tersebut tetap harus mengandung tantangan bagi individu. Apabila seseorang suadah puas dengan segala sesuatu, maka ia cenderung untuk ingin mempertahankan situasi tersebut.