Rabu, 22 Mei 2013

Nobody's Home

"Nobody's Home"- Avril Lavigne

Well I couldn't tell you why she felt that way,
She felt it everyday.
And I couldn't help her,
I just watched her make the same mistakes again.

What's wrong, what's wrong now?
Too many, too many problems.
Don't know where she belongs, where she belongs.
She wants to go home, but nobody's home.
It's where she lies, broken inside.
With no place to go, no place to go to dry her eyes.
Broken inside.

Open your eyes and look outside, find the reasons why.
You've been rejected, and now you can't find what you left behind.
Be strong, be strong now.
Too many, too many problems.
Don't know where she belongs, where she belongs.
She wants to go home, but nobody's home.
It's where she lies, broken inside.
With no place to go, no place to go to dry her eyes.
Broken inside.

Her feelings she hides.
Her dreams she can't find.
She's losing her mind.
She's fallen behind.
She can't find her place.
She's losing her faith.
She's fallen from grace.
She's all over the place.
Yeah,oh

She wants to go home, but nobody's home.
It's where she lies, broken inside.
With no place to go, no place to go to dry her eyes.
Broken inside.

She's lost inside, lost inside...oh oh yeah
She's lost inside, lost inside...oh oh yeah

Selasa, 21 Mei 2013

Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Ada 1 Juta, Hanya 10% yang Berobat

Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Ada 1 Juta, Hanya 10% yang Berobat




Jakarta, Berbeda dengan penyakit fisik seperti pilek ataupun sakit jantung yang mudah dideteksi gejalanya sejak dini, penyakit mental lebih sulit dideteksi. Tak hanya itu, banyak masyarakat yang mengalami gangguan jiwa tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena berbagai hal

"Yang sakit dengan yang datang berobat itu sangat jauh. Hanya 10 persen dari penderita yang pernah berobat ke rumah sakit jiwa atau fasilitas kesehatan lainnya," kata dr Edduar Idul Riyadi, SpKJ, Kasubdit Kelompok Berisiko Ditjen Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI

Dalam acara peluncuran Unit Mobile Mental health Service di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013), dr Eduard yang akrab disapa dengan nama Edi ini menjelaskan bahwa salah satu penyebab minimnya penderita gangguan jiwa yang memeriksakan diri adalah karena masalah akses pelayanan kesehatan.

Di Indonesia, rumah sakit jiwa yang dimiliki pemerintah hanya 33 buah. Sedangkan rumah sakit jiwa atau klinik-klinik penderita gangguan jiwa yang dikelola swasta berjumlah sekitar 40-an. Jumlah ini dirasa masih sangat kurang karena penderita gangguan jiwa di Indonesia masih cukup banyak.

"Penderita gangguan jiwa hasil Riskesdas 2007 itu yang berat saja ada 0,64 persen atau sekitar hampir sejuta dari seluruh penduduk Indonesia. Nah, di beberapa daerah juga tidak ada RSJ. Ada 8 provinsi, khususnya provinsi pemekaran, yang belum memiliki fasilitas kesehatan jiwa," terang dr Edi.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan jiwa. Dr Edi mengaku pihaknya sudah mendorong rumah sakit pemerintah di daerah untuk membuka fasilitas rawat bagi penderita gangguan jiwa. Selama ini, rumah sakit umum di daerah memang tidak merawat penderita gangguan jiwa.

Praktiknya, rumah sakit pemerintah di daerah yang mampu diminta membuka pelayanan rawat inap minimal 10 tempat tidur. Pelayanan ini dikhususkan untuk pasien gangguan jiwa, sehingga pasien gangguan jiwa akan lebih terlayani. Namun masalah pelayanan ini juga harus diikuti penambahan SDM yang berkualitas.

"SDM kita juga masih rendah, khususnya tenaga psikiater masih kurang. Ada sekitar 650 atau hampir 700 orang psikiater di seluruh Indonesia dan masih terpusat di kota-kota besar, tidak menyebar ke seluruh Indonesia," terang dr Edi.


(pah/vit)

Kurangnya SDM dan fasilitas rawat bagi penderita gangguan jiwa merupakan penyebab utama munculnya angka yang relatif tinggi penderita gangguan jiwa di Indonesia. Umumnya, rumah sakit Indonesia lebih mengutamakan pasien yang memiliki penyakit yang tampak dan jelas padahal awal mula penyakit merupakan dari tidak ketahanan seseorang terhadap sesuatu  sehingga menimbulkan stres dan berakibat langsung pada tubuhnya.

Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli akan kesehatan jiwa dan pikiran agar berdampak bagi tubuh dan aktifitas sehari-hari.
Pada zaman sekarang sudah banyak, para psikolog dan psikiater bahkan motivator ikut serta dalam mengatasi bahkan mengurangi masalah ini, mereka bekerja sebagai dasar untuk memotivasi mereka untuk berpikir positif dan memberikan cara ampuh untuk menghadapi stres. Nah, selain itu untuk mengurangi penderita gangguan jiwa diperlukan sesuatu yang lebih intens dan lebih pribadi yaitu mendekatkan diri terhadap Pencipta-Mu. 

Survei juga membuktikan bahwa penderita gangguan jiwa lebih banyak diderita oleh orang-orang yang memiliki IQ (intelektual) tinggi daripada orang-orang yang IQ rendah, hal ini juga diambil garis besar bahwa hal yang dapat menjadi kesuksesan hidupmu bukan pada daya IQ dan kepuasaanmu akan suatu hal melainkan dari keseimbangan jiwa dan pemikiranmu terhadap kehidupan di dunia dan dengan Pencipta-Mu.
Hal ini mutlak dijelaskan dengan konsep yin dan yang (china), bahwa sisi gelap dan terangmu harus seimbang ..



Sabtu, 18 Mei 2013

Perlukah pendidikan Moral??





Ketika saya hendak pulang kampus, seperti biasanya saya pulang naik kendaraan umum. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, matahari sudah mulai lelah menyinari bumi, begitu juga manusia yang lelah dengan aktifitas dan pekerjaan mereka dari pagi sampai sore hari. Perjalanan rumah saya cukup jauh kira-kira 45 menit dari kampus. Selama perjalanan pulang banyak hal-hal atau kejadian menarik dan miris bagi saya.
Salah satunya ketika saya naik angkot, angkot yang saya tumpangi ketika itu cukup ramai tetapi masih ada beberapa space antara penumpang dengan penumpang lain. Ketika itu ada seorang ibu yang memiliki badan cukup besar dan aroma yang cukup menyengat menaiki angkot yang saya tumpangi. Ketika Ibu itu hendak duduk, penumpang-penumpang lain yang tadinya kalem karena mungkin kelelahan tiba-tiba mulai agresif, saling mendoronglah, melebarkan kakinya lah agar ibu itu tidak duduk disebelah mereka, ntah apa yang mereka pikirkan, saya tidak habis pikir pada saat itu. Saya melihat begitu jijik nya mereka melihat ibu itu, baik muda maupun tua. Mau-tidakmau secara sukarela saya menawarkan ibu itu duduk disebelah saya dan berbagi space tempat duduk.
 Saya sangat miris melihat hal seperti itu, kita sesama manusia seharusnya saling menolong dan berbagi, tetapi  nyatanya banyak dari kita yang egois. Terlalu banyak saya mendengar ceramah atau nasehat dari orang lain, bahwa kita hidup di dunia harus saling berbagi dan menghargai, tapi ketika melihat hal itu saya berpikir hal 'nonsense'.
Apa yang terjadi dengan manusia saat ini?
Apakah ada trend untuk hidup sendiri seperti status facebook yang saya lihat 'AKU YA AKU KAU YA KAU?'
Begitu mudahkah seseorang tidak menghargai orang lain?

Pertanyaan besar bagi saya dan juga menjadi pelajaran yang besar bagi saya.
Tidakkah penumpang tadi berpikir bagaimana hal itu terjadi pada Ibu mereka atau mereka sendiri. Saya juga menyadari bahwa mereka baru selasai dari aktifitas mereka dan mereka sangat lelah begitu juga yang saya rasakan bahkan yang ibu itu rasakan. Seharusnya kita harus saling mengahargai dan menghormati sesama manusia. Saya masih ingat, ketika Alm. nenek saya bercerita bahwa dahulu manusia pada zaman nenek sangat harmonis, saling toleransi dan saling membangun. Jika nenek saya melihat manusia zaman sekarang mungkin dia mengira, dia hidup didunia mana atau manusia seperti apa ini?

PERLUKAH ADANYA PENDIDIKAN MORAL??

Pendidikan moral sangat perlu ditanamkan pada manusia, terutama pada masa kanak-kanak. Sudah saatnya setiap sekolah terutama di Indonesia menjadikan pendidikan moral sebagai kurikulum atau mata pelajaran wajib bagi siswanya. Dari pendidikan moral kita dapat memahami aspek-aspek penting dalam kehidupan bahkan meraih kesuksesan baik di dunia maupun akhirat nanti. Banyak dari kita yang menyampingkan bahkan tidak memperdulikan guna dari pendidikan moral itu, yang kita tahu dengan belajar ilmu yang kaku (yang sudah ada) merupakan menjadi tabungan mereka untuk masa depan. Tapi dengan kita menjadi 'pintar' apakah kita juga 'pintar' dalam menggunakannya??

So, Teman-teman blog. Mari kita pelajari dan praktekkan pendidikan moral kepada diri kita agar menjadi manusia yang memiliki moralitas dan rasa saling menghormati dan menghargai. Saya berharap kejadian yang saya lihat tidak terjadi lagi dan menjadi pelajaran buat kita semuua

Ayo mari tanamkan Pendidikan Moral :)